Jumat, 12 November 2010

Hari Kedua Belas. Laporan Harian.

Hai, ini saya lagi. Ini sudah hari keberapa? dia bertanya dalam hatinya.  Dulu, minggu sudah hampir usai, dan dia belum mencuci gelas miliknya. Kini terus-menerus bertanya ini sudah hari keberapa. Sementara kesedihan-kesedihan masih makan di sekitarnya. Lahap, rakus. Tidak kenyang-kenyang mereka. Mata ini menonton mereka berkelliaran berputar-putar seperti monster di sebuah game. Yang tokoh utamanya kuning bulat dengan mulut seperempat tubuhnya sendiri melahap titik-titik berbunyi bip bip bip. Yang kalau makan buah lalu bisa melahap monster-monsternya. Berbalik keadaan. Sayang buahnya hanya tersedia sedikit di setiap sudut permainan itu. Makanya kesedihan-kesedihan itu terus merajalela. Ya, monster-monster itu.

Sedikit berpikir, apa yang bisa membuat monster-monster itu setidaknya berkurang. Selain makan buah yang hanya sedikit itu. Darahnya tidak cukup banyak untuk memberi makan mereka. Pusing di kepala akan menjadi-jadi kalau itu diambil. Penyakit nenek-nenek kata mereka. Mau diobati berapa kali juga tidak sembuh-sembuh. Tidak mengerti pula bagaimana. Apalagi bila ikut mengajar di pelosok. Tinggal di pinggiran sedikit saja keluhannya sudah sepanjang jarak pulang perginya sendiri. Kamar mandi tak berkran lah. Listrik mati lah. Air mati lah. Polusi lah. ATM jauh lah. Tidak ada mall, bioskop, Mcd. Cih. Standarmu sok tinggi! Lalu empat bulan itu kau hidup darimana? Manusia sih manusia saja. Lihat ibu kost-mu. Keluarganya. Hidup rukun, damai, sejahtera, bahagia. Dengan air yang kau bilang kotor itu. Mereka penyakitan? Bahkan kulitnya lebih bersih darimu. Senyumnya lebih tulus darimu. Dan yang pasti dosanya lebih sedikit dari pejabat-pejabat di luar sana. Yang sedang duduk-duduk di mobil dinas dan tidur di ruangan ber-AC. Mati sih mati saja. Berhenti bernafas. Ditangisi (kalau ada yang menangisi) lalu dikubur di tanah. Selesai. Memang mau apalagi?

Berpikir lagi, kenapa Ia diberi tahu ini semua. Hey, beruntunglah kau diperlihatkan semua ini!! Lihat orang-orang di sana. Duduk-duduk pengangguran sambil internetan. Minum minuman yang seteguknya belasan ribu, mabuk-mabukan. Cari sepatu berhak tinggi supaya kakinya lebih jenjang. Yang harganya bisa beli beras berliter-liter (beras rakyat tentunya, bukan beras yang dipakai makan sama ikan mentah secuil saja harganya sepeti harga seliter beras--itupun masih kurang nominalnya). Mending kalau uangnya milik sendiri. Silakan dipertanggung jawabkan.

 Dan kau, nih, disodori ini semua di depan mukamu. Dijejali nasi penuh batunya di mulutmu. Yang kalau membelinya harus berdesak-desakan dengan para pekerja pabrik yang lain. Yang mana tahu di ijazahmu tercantum titel sarjana dari institut terbaik di negeri ini (katanya). Atau rekanmu yang distempel cum laude. Butuh makan nasi sebungkus sih sama saja. Disini itu tidak berarti. Polusi yang dihirup sama saja. Pekerja-pekerja itu melirikmu juga sama seperti manusia lainnya. Mungkin bayaran untuk jerih payahmu menempuh pendidikan susah-susah terlihat dari nominal gaji yang hanya kau dan staf accounting yang tahu. Dan ruangan ber-AC yang kadang sedikit terlalu dingin sehingga kau putuskan untuk dimatikan saja. Atau dispenser eksklusif di ruanganmu sendiri. Yang waktu itu pernah seorang pekerja yang sedang hamil tua dibawa supervisor demi mendapat sebotol air karena dispenser massal diluar sana habis airnya. Yang membuat saya berpikir habis-habisan. Di luar ada berapa dispenser untuk berapa orang? Hanya satu ternyata. Dan disini satu galon besar hanya untuk segelintir orang.


Masih banyakkah yang belum saya lihat? Dasar lemah. Manusia sih manusia saja. Mati sih mati saja. Berhenti bernafas. Ditangisi (kalau ada yang menangisi) lalu dikubur di tanah. Selesai. Memang mau apalagi?


Silakan dipertanggung jawabkan hey, kamu. Saya tunggu laporannya di meja saya.

gambar lagi-lagi dari dari Buku "Monggo Mampir : Mengudap Rasa Secara Jogja" oleh Syafaruddin Murbawono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar