Minggu, 11 Desember 2011

Hari Keenam. Dongeng Amba dan Nitik.

Ini kisah tentang perjalanan. Sang Puteri Kecil dari Tanah Barat yang sedang melakukan perjalanannya akan rindu tanah leluhur. Tanah Tengah tujuannya. Dalam perjalanannya menuju Tanah Tengah, Ia bertemu beragam manusia dengan keahliannya masing-masing. Ia baru menyadari bahwa semua berjalan pada jalurnya masing-masing. Semua memiliki tugas untuk menjalani hidup. Namun, satu yang Ia paling membuatnya terkesan, Ia bertemu dengan para perajin. Mereka yang bekerja tekun dan teliti dengan tangannya. Mereka yang memiliki perasaan yang sensitif dan indah. Mereka yang bersabar luar biasa demi keindahan.



Sang Puteri yang sungguh terkesan lalu memutuskan untuk menetap sementara. Ia ingin tahu lebih jauh tentang ketelitian yang luar biasa itu. Tentang orang-orang yang bersabar luar biasa itu. Para penduduk Tanah Tengah menyebutnya perajin. Mereka yang memiliki arti hidup paling tinggi. Yang jiwanya diserahkan pada selembar kain putih polos yang mereka sebut mori. Tangan mereka luwes memberi titik-titik pada permukaannya. Memberi nilai yang tidak bisa disebutkan berapa jumlahnya.


 

Lalu Sang Puteri didongengi oleh para penduduk tersebut. Dongeng tentang semesta. Dongeng itu diceritakan pada Sang Puteri ketika bulan penuh di langit malam. Purnama sidhi mereka bilang. Pada malam-malam bulan penuh itulah para perajin itu duduk bersila. Duduk menghadap kain putihnya yang telah dibentangkan di atas gawangan. Mereka menundukkan kepalanya. Menutup matanya. Meresapi semesta. Kain putih di hadapan mereka ibarat semesta luas yang cakrawalanya kelak akan mereka ukir sendiri. Lalu tangan mereka akan mengeratkan pegangannya pada tembaga yang mereka bentuk sedemikian rupa sehingga bisa menampung karya. Menampung rasa. Menampung sewajan cairan cokelat gelap beraroma damar. Nyamplung mereka menyebutnya. Disatukan dengan cucuk dan gagang yang akhirnya dinamakan canting

Di dalam canting ada cairan yang mereka saring dari pepohonan damar yang mereka tanam sedari bibit. Cairan itu mereka sebut malam. Selayaknya malam yang menaungi Sang Purnama. Panas cairan itu membutuhkan wajan untuk menampung. Wajan yang menampungnya ibarat langit yang menaungi semesta. Tangan-tangan perajin itu memegang gagang dengan diiringi hembusan nafas yang satu-satu. Yang diatur supaya selaras dengan setiap goresan yang mereka torehkan di bidang semesta. Di bidang putih polos yang mereka lukis dengan keindahan dan kesabaran. Hati-hati mereka penuhi bidang. Mereka semua tahu, semesta itu milik Yang Kuasa. Tangan-tangan manusia mereka terlalu lemah untuk seenaknya menggores pola. Sebab itulah betapa hati-hatinya mereka menoreh.



Satu hembusan nafas untuk setiap satu tarikan garis. Duduk bersila jadi salah satu bentuk penghormatan. Jangan pernah merasa lebih tinggi dari Yang Kuasa. Karena kau hanya bertugas menulis. Menoreh. Bisa jadi pula luka yang kau torehkan. Maka semesta akan menangis. Maka berhati-hatilah. Semesta ini milik Yang Kuasa. Canting di tanganmu hanya perantara. Ia yang mengisi titik-titik. Menulisi titik-titik. Amba. Nitik.

Sang Puteri hampir kehabisan nafas saking kagumnya pada dongeng itu. Ia ikut menahan nafas tiap kali melihat para perajin itu duduk bersila dan menitiki semesta. Ia menyaksikan renungan hidup secara langsung. Bukan lagi hanya ucapan atau cerita. Ia duduk dan menyaksikan para perajin itu menundukkan pandangannya untuk meresapi semesta. Dan rasanya luar biasa. Tangannya tak sabar ingin menggenggam gagang canting juga. Hatinya berdebar-debar keras rindu memegang permukaan mori selayaknya rindunya padanya tangan Ayahnya.

Para perajin pun menerima Sang Puteri dengan tangan terbuka. Para penduduk menyambut Sang Puteri sebagai salah satu calon perajin yang terpercaya. Bukan karena Sang Puteri dari tanah yang terkenal makmur, bukan pula karena Sang Puteri pendatang yang istimewa, tapi karena Sang Puteri mau meresapi semesta seperti mereka. Karena Sang Puteri tidak beralas kaki dan mau duduk bersila. Sang Puteri mau meresapi semesta. Menundukkan mata demi menitiki kain putih polos yang kelak tidak akan ternilai dengan emas. Kain putih polos itu semesta yang kau tinggali. Kain itu akan diberi warna dan makna. Lalu manusia-manusia Tanah Tengah akan menjadi punggawanya. Itu harta tak benda yang tidak bisa dinilai dengan kesombongan. Bukan pula harta yang bisa diperebutkan di tanah-tanah seberang. Karena hanya mereka yang meresapi semesta yang mengerti. Dan Sang Puteri salah satunya. Perjalanannya masih panjang. Kain morinya masih terlalu polos. Namun cantingnya sudah siap dipakai. Ia akan bawa ke Tanah Barat dan tunjukkan pada dunia.



[Sebuah apresiasi untuk teman-temanku para kriyawan dan kriyawati, yang tangannya tak pernah lelah berkarya. Dan untuk Batik Indonesia, yang kaya filosofinya masih terus membuat saya merinding.]

3 komentar:

  1. tulisannya keren banget! aku suka batik :) dan tulisan ini membawa filosofi batik dengan cantik :)

    BalasHapus
  2. @mbak danti: makasih mbaak.. iya, tp sebenernya masih kurang nih, sumbernya dikit bgt yg ttg filosofi ini, rata2 org cuma ngebahas filosofi motifnya aja, padahal dibalik kegiatan membatiknya sendiri itu ada filosofinya sendiri lho.. mulai dari cantingnya, kainnya, malamnya..waaa,,pengen nyari lagi :)

    BalasHapus
  3. aku pernah nulis juga tentang mbatik :p ngga 'dalem' sih, hanya menulis yang dirasa saja :) http://cinnamome37.blogspot.com/2010/02/mbatik.html

    BalasHapus